Tradition Rebo Kasan (Last Wednesday) held in Bogor, West Java, every year in the month of Safar. The term comes from the word Rebokasan or last Wednesday in the month of Safar. Kasan Wednesday tradition is not only done in Bogor, West Java, but also implemented in other areas, such as Jakarta, Yogyakarta, Gresik (East Java), and the Pacific. The purpose of this tradition more or less the same in each region who carry it out, that is the same, to ask God Almighty to be kept away from the reinforcements' (calamities and disasters).
In Bogor, the implementation of this tradition begins with prayers starting reinforcements' (around 7 am), tahlil and praise, and a little mosque discourse of faith. End of the ceremony is the exchange of banquets and other diamond and dining / breakfast together. However, for those who have regular activities, meals can be brought back home. So, do not be surprised if on Tuesday-the day before, you see a lot that sells leather diamond in traditional markets. Even the vegetables around the village artisan did not want to miss providing diamond or diamond mature skin. "Pick up the ball", so said my subscription vegetable artisans.
Many people say that tradition Rebo Kasan (Wednesday end of the month Safar) is not found either in the Messenger Muhammad and the hadith, hadith Prophet Muhammad, but also not found-hadith hadiths that forbid or prevent it. Perhaps for this reason that the cause of this tradition sustainable. Let this tradition remain sustainable during the execution echoed the verses of Allah, in glorifying God by reading the blessings on the Apostle, and not interfered with practices that tarnish our belief in Allah and His Messenger.
العادة محكومة بالشريعة "Customary law may enter the grounds because shari'a", this becomes an opportunity to further incorporate the scholars inside the Shari'a, for example when the first convert to Islam in Indonesia, a variety of custom as a momentum for the introduction of Islam.
في بوغور، وتنفيذ هذا التقليد يبدأ مع صلاة بدءا تعزيزات '(حوالي 7:00) ، التهليل والمديح ، وخطاب المسجد القليل من الإيمان. نهاية الحفل تم تبادل والمآدب وغيرها من الماس طعام / وجبة الإفطار معا. ومع ذلك، بالنسبة لأولئك الذين لديهم نشاطات العادية، يمكن جلب وجبات الطعام في الوطن. لذا، لا ينبغي أن نندهش إذا يوم الثلاثاء، وهو اليوم من قبل ، وكنت أرى الكثير التي تبيع الماس الجلود في الأسواق التقليدية. حتى لم الخضار حول القرية الحرفية لا تريد أن تفوت فرصة تقديم الماس أو الألماس الجلد ناضجة. "التقط الكرة"، وقال لي ذلك الحرفيين الخضر الاشتراك.
كثير من الناس يقولون ان هذا التقليد لم يتم العثور على Rebo Kasan (الأربعاء نهاية شهر صفر) إما في رسول محمد، والأحاديث النبوية والحديث النبوي ، ولكن أيضا أحاديث لم يتم العثور على الحديث التي تمنع أو منعه. ربما لهذا السبب أن سبب هذا التقليد المستدامة. ترك هذا التقليد يبقى المستدامة أثناء تنفيذ ردد آيات الله ، في تمجيد الله من خلال قراءة الصلاة على الرسول ، وليس الممارسات التي تتعارض مع تشويه إيماننا بالله ورسوله.
العادة محكومة بالشريعة "القانون العرفي قد تدخل لأسباب لأن الشريعة" ، وهذا يصبح فرصة لإدماج مزيد من العلماء من داخل الشريعة، على سبيل المثال عندما يكون أول من اعتنق الإسلام في إندونيسيا، ومجموعة متنوعة من العرف باعتباره قوة دافعة لدخول الإسلام.
Tradisi Rebo Kasan (Rabu Terakhir) dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat setiap tahunnya di bulan Safar. Istilah berasal dari kata Rebokasan atau Rabu terakhir di bulan Safar. Tradisi Rabu Kasan sebenarnya tidak hanya dilakukan di Bogor, Jawa Barat saja, tetapi dilaksanakan juga di daerah lain, seperti Banten, Yogyakarta, Gresik (Jawa Timur), dan Bangka. Maksud dari tradisi ini kurang lebih sama di setiap daerah yang melaksanakannya, yaitu sama, untuk memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari bala’ (musibah dan bencana).
Di Bogor, pelaksanaan tradisi ini diawali dengan shalat tolak bala’ (sekitar jam 7 pagi), tahlil dan pujian, dan sedikit wejangan dari iman masjid. Akhir dari upacara ini adalah tukar menukar jamuan ketupat dan lain-lainnya dan makan/sarapan bersama. Namun, bagi yang memiliki kegiatan rutin, jamuan bisa dibawa pulang ke rumah. Jadi, jangan heran kalau pada hari Selasa –sehari sebelumnya, Anda melihat banyak yang menjual kulit ketupat di pasar-pasar tradisional. Bahkan tukang sayur keliling kampung pun tidak mau ketinggalan menyediakan kulit ketupat atau ketupat matang. “Menjemput bola”, begitu kata tukang sayur langganan saya.
Banyak orang mengatakan bahwa tradisi Rebo Kasan (Rabu akhir bulan Safar) tidak ditemukan baik dalam masa Rasul SAW dan dalam hadist-hadist Rasul SAW, namun juga tidak ditemukan hadist-hadist yang melarangnya atau mencegahnya. Mungkin alasan inilah yang menyebabkan lestari tradisi ini. Biarlah tradisi ini lestari selama dalam pelaksanaannya tetap dikumandangkan ayat-ayat Allah SWT, di agungkan Rasul Allah dengan membaca shalawat, dan tidak dicampuri praktek-praktek yang menodai keyakinan kita kepada Allah dan Rasulnya.
العادة محكومة بالشريعة "Adat bisa jadi sebab masuk hukum dengan alasan syariat", ini menjadi peluang para ulama untuk lebih memasukan dalamnya syariat, contoh ketika masuk islam pertama kali di Indonesia, berbagai adat dijadikan momentum untuk masuknya Islam.
Di Bogor, pelaksanaan tradisi ini diawali dengan shalat tolak bala’ (sekitar jam 7 pagi), tahlil dan pujian, dan sedikit wejangan dari iman masjid. Akhir dari upacara ini adalah tukar menukar jamuan ketupat dan lain-lainnya dan makan/sarapan bersama. Namun, bagi yang memiliki kegiatan rutin, jamuan bisa dibawa pulang ke rumah. Jadi, jangan heran kalau pada hari Selasa –sehari sebelumnya, Anda melihat banyak yang menjual kulit ketupat di pasar-pasar tradisional. Bahkan tukang sayur keliling kampung pun tidak mau ketinggalan menyediakan kulit ketupat atau ketupat matang. “Menjemput bola”, begitu kata tukang sayur langganan saya.
Banyak orang mengatakan bahwa tradisi Rebo Kasan (Rabu akhir bulan Safar) tidak ditemukan baik dalam masa Rasul SAW dan dalam hadist-hadist Rasul SAW, namun juga tidak ditemukan hadist-hadist yang melarangnya atau mencegahnya. Mungkin alasan inilah yang menyebabkan lestari tradisi ini. Biarlah tradisi ini lestari selama dalam pelaksanaannya tetap dikumandangkan ayat-ayat Allah SWT, di agungkan Rasul Allah dengan membaca shalawat, dan tidak dicampuri praktek-praktek yang menodai keyakinan kita kepada Allah dan Rasulnya.
العادة محكومة بالشريعة "Adat bisa jadi sebab masuk hukum dengan alasan syariat", ini menjadi peluang para ulama untuk lebih memasukan dalamnya syariat, contoh ketika masuk islam pertama kali di Indonesia, berbagai adat dijadikan momentum untuk masuknya Islam.




0 comments:
Post a Comment